
PALANGKA RAYA SEMAKIN KEREN – Di tengah gencarnya isu deforestasi global, Indonesia memiliki permata hijau yang menjadi harapan bagi kelestarian primata langka dunia. Taman Nasional Sebangau, kawasan konservasi seluas 568.700 hektar di Kalimantan Tengah, kini menjadi sorotan internasional sebagai habitat kritis bagi populasi orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) yang terancam punah.(Kamis,18/9/25)
Kawasan yang terletak di Kabupaten Katingan, Pulang Pisau, dan Kotawaringin Timur ini bukan sekadar hutan biasa. Sebangau merupakan kompleks ekosistem gambut tropis terluas di Asia Tenggara dengan kedalaman mencapai 12 meter. Sistem sungai yang mengalir melalui kanopi hijau menciptakan koridor alami yang mendukung kehidupan ribuan spesies flora dan fauna endemik Borneo.
“Taman Nasional Sebangau adalah laboratorium alam yang tak ternilai,” ungkap Dr. Sari Nurmalasari, Kepala Balai Taman Nasional Sebangau. “Di sini, kita tidak hanya melindungi orangutan, tetapi seluruh jejaring kehidupan yang telah berevolusi selama jutaan tahun.”
Data terbaru menunjukkan bahwa Sebangau menjadi rumah bagi sekitar 6.000 individu orangutan kalimantan, menjadikannya populasi terbesar di habitat alami. Angka ini merepresentasikan hampir 20% dari total populasi orangutan kalimantan yang tersisa di dunia, yang diperkirakan hanya tinggal 104.700 individu di alam liar.
Keunikan orangutan Sebangau terletak pada adaptasi mereka terhadap ekosistem gambut. Berbeda dengan orangutan di hutan tanah mineral, orangutan Sebangau telah mengembangkan pola makan dan perilaku khusus yang memungkinkan mereka bertahan hidup di lingkungan yang didominasi oleh pohon-pohon khas gambut seperti jelutung, ramin, dan meranti gambut.
Selain orangutan, Taman Nasional Sebangau menyimpan kekayaan biodiversitas yang luar biasa. Tercatat lebih dari 166 spesies burung, termasuk enggang gading yang ikonik dan julang emas yang langka. Mamalia lain yang mendiami kawasan ini antara lain bekantan, lutung merah, beruang madu, macan dahan, dan kucing hutan.






