PALANGKA RAYA SEMAKIN KEREN – Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya menggelar kegiatan Analisa Kebutuhan Fasilitas Kesehatan (Faskes) dan Mapping Rujukan Tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung di salah satu hotel di Palangka Raya ini bertujuan untuk melakukan perencanaan yang komprehensif terhadap kebutuhan fasilitas kesehatan serta memetakan sistem rujukan yang efektif dan efisien untuk meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan masyarakat.
Perencanaan kebutuhan fasilitas kesehatan yang tepat sangat penting untuk memastikan setiap wilayah memiliki akses kesehatan yang memadai dan merata. Selain itu, sistem rujukan yang terstruktur dengan baik akan memastikan pasien mendapatkan pelayanan kesehatan di tingkat yang sesuai dengan kondisi medisnya, sehingga tidak terjadi penumpukan pasien di fasilitas kesehatan tertentu.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan analisa kebutuhan faskes dan mapping rujukan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan sistem kesehatan yang terencana dan berbasis data. Hasil analisa ini akan menjadi dasar dalam penyusunan program dan alokasi anggaran kesehatan tahun 2026.
“Kita perlu melakukan analisa yang mendalam tentang kebutuhan fasilitas kesehatan di setiap wilayah. Apakah puskesmas yang ada sudah cukup? Apakah perlu penambahan pustu atau poskesdes? Bagaimana sistem rujukannya? Semua ini perlu dipetakan dengan baik agar layanan kesehatan semakin optimal,” ujar Kepala Dinkes.
Sekretaris Dinkes menjelaskan bahwa analisa kebutuhan faskes dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk jumlah penduduk, sebaran geografis, aksesibilitas, pola penyakit, serta ketersediaan tenaga kesehatan dan peralatan medis. Data-data ini kemudian dianalisis untuk menentukan prioritas pengembangan fasilitas kesehatan.
“Kami menggunakan pendekatan berbasis data dan evidence-based dalam melakukan analisa. Kami mengumpulkan data dari seluruh puskesmas, rumah sakit, dan fasilitas kesehatan lainnya untuk mendapatkan gambaran komprehensif tentang kondisi kesehatan di Palangka Raya,” jelas Sekretaris Dinkes.
Narasumber yang merupakan pakar perencanaan kesehatan memberikan paparan tentang metodologi analisa kebutuhan fasilitas kesehatan dan sistem rujukan. Ia menjelaskan tentang standar rasio fasilitas kesehatan terhadap jumlah penduduk, analisis gap antara kebutuhan dan ketersediaan, serta best practice sistem rujukan yang efektif.
Kegiatan ini juga membahas tentang mapping rujukan, yaitu pemetaan alur rujukan pasien dari fasilitas kesehatan tingkat pertama (puskesmas) ke fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut (rumah sakit). Sistem rujukan yang baik akan memastikan pasien mendapatkan pelayanan yang tepat sesuai dengan tingkat keparahan penyakitnya.
Para kepala puskesmas dan perwakilan rumah sakit yang hadir aktif berdiskusi dan memberikan masukan berdasarkan pengalaman di lapangan. Mereka menyampaikan berbagai kendala dalam sistem rujukan saat ini, seperti ketidakjelasan alur rujukan, komunikasi yang kurang efektif antar fasilitas kesehatan, serta keterbatasan transportasi rujukan.
Dinkes juga memaparkan rencana pengembangan fasilitas kesehatan tahun 2026, termasuk pembangunan puskesmas baru, renovasi puskesmas existing, penambahan pustu dan poskesdes, serta pengadaan peralatan medis. Semua rencana ini didasarkan pada hasil analisa kebutuhan yang telah dilakukan.
Hasil kegiatan analisa kebutuhan faskes dan mapping rujukan ini akan dijadikan dokumen perencanaan resmi yang akan digunakan sebagai acuan dalam penyusunan anggaran dan implementasi program kesehatan tahun 2026. Dinkes berkomitmen untuk terus melakukan evaluasi dan penyesuaian sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat.
Dengan perencanaan yang matang dan berbasis data, Dinkes Palangka Raya optimis dapat meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan bagi seluruh masyarakat Palangka Raya secara merata dan berkeadilan.













