PALANGKA RAYA, Palangkaraya Semakin Keren โ Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah diperkirakan kembali meningkat pada tahun 2026. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius di tengah perubahan cuaca menuju musim kemarau yang diprediksi lebih kering dibanding sebelumnya, terutama di wilayah-wilayah dengan karakteristik lahan gambut yang rentan terbakar.
Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Tengah, Janang Firman Palanungkai, memprediksi potensi karhutla tahun ini dapat meningkat hingga 20 persen dibanding tahun sebelumnya.
Prediksi tersebut didasarkan pada kondisi cuaca, kerentanan kawasan gambut, serta masih lemahnya kebijakan mitigasi bencana di Kalimantan Tengah.
โKalau berbicara terkait seberapa besar potensi yang akan terjadi di Kalteng pada tahun 2026 ini, menurut kami kemungkinan naik 20 persen dari sebelumnya. Artinya potensi kebakaran akan semakin tinggi,โ ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Menurut Janang, meskipun hujan masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah dalam beberapa waktu terakhir, kondisi tersebut belum cukup untuk menghilangkan ancaman kebakaran secara menyeluruh. Ia menilai masyarakat dan pemerintah tetap perlu meningkatkan kewaspadaan sejak dini menghadapi musim kemarau yang diprediksi lebih panjang dan kering.
โPrediksi BMKG sebelumnya kan April-Mei ini mulai kemarau, meskipun sekarang masih terjadi hujan. Tapi prediksi kami di sebagian daerah, kemungkinan ke depan kalau memang masuk musim kering dan kemarau, nanti akan terjadi kebakaran yang luar biasa,โ katanya.
Ia menjelaskan, wilayah dengan hamparan lahan gambut masih menjadi kawasan paling rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan. Sejumlah daerah yang dinilai memiliki tingkat kerentanan tinggi di antaranya Kabupaten Pulang Pisau, Kapuas, Barito Selatan, Kotawaringin Timur, hingga Kotawaringin Barat.
โNah yang paling rawan itu wilayah yang memang banyak lahan gambutnya seperti Pulang Pisau, Kapuas, Barito Selatan, Kotawaringin Timur, dan Kotawaringin Barat,โ sebutnya.
Meski demikian, Janang menegaskan bahwa potensi karhutla tidak hanya mengancam wilayah-wilayah tersebut. Seluruh daerah di Kalimantan Tengah dinilai tetap memiliki risiko yang sama apabila cuaca semakin kering dan pengawasan lapangan tidak diperkuat.
โTidak tertutup kemungkinan juga wilayah-wilayah lain akan terjadi kebakaran hutan dan lahan,โ tambahnya.
Dalam keterangannya, Janang juga menyoroti lemahnya kebijakan mitigasi bencana karhutla di Kalimantan Tengah. Menurutnya, penanganan yang dilakukan selama ini masih terlalu berfokus pada pembangunan infrastruktur penanggulangan kebakaran, sementara akar persoalan penyebab lahan mudah terbakar belum benar-benar diselesaikan secara menyeluruh.
โKelemahannya hari ini memang kita hanya fokus pada infrastruktur saja, tapi kebijakan mitigasi bencana di Kalimantan Tengah menurut kami belum utuh,โ tegasnya.
Ia menilai pemerintah perlu melakukan evaluasi lebih serius terhadap faktor-faktor yang menyebabkan lahan gambut menjadi sangat rentan terbakar, termasuk aktivitas investasi dan pembukaan lahan yang terus berlangsung di kawasan gambut.
Menurutnya, berbagai aktivitas tersebut turut memperbesar kerusakan ekosistem dan meningkatkan risiko kebakaran saat musim kemarau tiba.
โKita masih belum melihat kebijakan yang detail untuk menangani karhutla di Kalteng. Padahal kelemahan kita sebenarnya ada pada aspek mitigasi, misalnya evaluasi terhadap akar permasalahan dan faktor penyebab kenapa lahan mudah terbakar, khususnya di lahan gambut,โ katanya.
Direktur Walhi Kalteng itu juga menyoroti maraknya aktivitas investasi di kawasan gambut yang dinilai memperbesar tekanan terhadap lingkungan. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, pembukaan lahan untuk proyek strategis nasional (PSN) disebut turut memberikan dampak terhadap kondisi ekosistem gambut di Kalimantan Tengah.
โKalau kita melihat, banyak sekali aktivitas investasi yang berada di kawasan gambut dan cukup luas di Kalteng. Ditambah lagi beberapa tahun terakhir ada aktivitas pembukaan lahan yang dilakukan di area PSN,โ ujarnya.
Menurut Janang, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius seluruh pihak karena dampak karhutla tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga transportasi akibat kabut asap.
Belajar dari bencana asap besar yang pernah terjadi beberapa tahun lalu di Kalimantan Tengah, ia berharap pemerintah tidak hanya fokus pada upaya pemadaman ketika kebakaran sudah terjadi, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan sejak awal musim kemarau melalui perlindungan kawasan gambut dan pengawasan aktivitas pembukaan lahan.
โBelajar dari bencana asap besar yang pernah terjadi di Kalimantan Tengah beberapa tahun lalu, kita berharap pemerintah tidak hanya fokus pada upaya pemadaman saat kebakaran terjadi, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan dan perlindungan kawasan gambut sejak awal musim kemarau,โ pungkasnya.


















